MERANGIN –Masyarakat Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Manau, merayakan datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah dengan penuh kemeriahan pada Sabtu (14/2). Ratusan warga memadati lapangan desa untuk melangsungkan tradisi leluhur bernama “Bantaian Adat”.
Wakil Bupati Merangin, A. Khafidh, membuka acara tersebut secara resmi mewakili Bupati M. Syukur. Tahun ini, antusiasme warga melonjak tajam hingga jumlah hewan ternak yang mereka potong mencapai 13 ekor kerbau. Angka ini meningkat hampir dua kali lipat jika kita bandingkan dengan tahun lalu yang hanya berjumlah 7 ekor.
Apresiasi Pemerintah Terhadap Kesejahteraan Masyarakat
Dalam sambutannya, Wakil Bupati A. Khafidh memuji kekompakan warga Bukit Batu dalam melestarikan budaya lokal. Selain itu, ia melihat fenomena kenaikan jumlah hewan ternak ini sebagai sinyal positif bagi kondisi finansial penduduk setempat.
“Pemerintah Kabupaten Merangin merasa bangga. Berkumpulnya masyarakat di sini bukan sekadar memotong daging, melainkan bentuk rasa syukur. Kenaikan jumlah hewan dari 7 menjadi 13 ekor kerbau secara ekonomi menunjukkan peningkatan kesejahteraan masyarakat Bukit Batu,” tegas Wabup Khafidh.
Selanjutnya, beliau meminta masyarakat untuk selalu menaati kesepakatan adat yang telah mereka buat bersama para pemuka agama dan tokoh adat. Ia berharap seluruh warga memasuki bulan Ramadhan dengan hati yang bersih tanpa adanya perselisihan.
Filosofi Keadilan dalam Pembagian Daging Adat
Di sisi lain, Tokoh Adat (Ninik Mamak) Bukit Batu, Datuk Harun, menguraikan makna mendalam dari tradisi bantaian tersebut. Menurutnya, aturan pembagian daging tetap menjunjung tinggi prinsip keadilan bagi pemilik ternak maupun seluruh masyarakat.
“Ada pepatah mengatakan, manusio batingkek turun, maningga warih tingga pusako. Kita wajib menjaga tradisi ini agar tidak hilang. Para pendahulu telah mengambil aturan pemantaian ini dengan sangat bijaksana,” ungkap Datuk Harun menggunakan bahasa adat yang kental.
Sebagai penutup, Datuk Harun menjamin transparansi dalam setiap proses pembagian daging. Melalui prinsip “Daging gajah sama dilapah, daging tunggal sama dicacah”, seluruh lapisan warga dapat merasakan kenikmatan yang sama rata dalam menyambut bulan mulia.***















