Anwar Ibrahim Jelaskan Alasan Malaysia Absen di KTT Perdamaian Gaza

Penulis : Redaksi
Rabu, 15 Oktober 2025 - 20:00 WIB

YAB Perdana Menteri, Dato' Seri Anwar Ibrahim mempengerusikan Mesyuarat Ahli Pihak Berkuasa (MOA) ke-35, Pihak Berkuasa Wilayah Pembangunan Iskandar (IRDA) di Putrajaya. 15 Oktober 2025. FATH RIZAL/Pejabat Perdana Menteri.  NO SALES; NO ARCHIVE; RESTRICTED TO EDITORIAL USE ONLY. NOTE TO EDITORS: This handout videos may only be used for editorial reporting purposes for the contemporaneous illustration of events, things or the people in the visual or facts mentioned in the caption. Reuse of the videos may req

YAB Perdana Menteri, Dato' Seri Anwar Ibrahim mempengerusikan Mesyuarat Ahli Pihak Berkuasa (MOA) ke-35, Pihak Berkuasa Wilayah Pembangunan Iskandar (IRDA) di Putrajaya. 15 Oktober 2025. FATH RIZAL/Pejabat Perdana Menteri. NO SALES; NO ARCHIVE; RESTRICTED TO EDITORIAL USE ONLY. NOTE TO EDITORS: This handout videos may only be used for editorial reporting purposes for the contemporaneous illustration of events, things or the people in the visual or facts mentioned in the caption. Reuse of the videos may req

Penulis : Redaksi

KUALA LUMPUR Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menjelaskan alasan negaranya tidak hadir dalam KTT Perdamaian Gaza di Sharm El-Sheikh, Mesir. Ia menyebut, pertemuan itu hanya mengundang negara yang mendukung penuh tanpa syarat rencana perdamaian 20 poin yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Baca Juga : Trump Ancam Kirim Rudal Tomahawk ke Ukraina Jika Rusia Ogah Damai

“Negara yang diundang hanyalah mereka yang memberikan dukungan total terhadap rencana perdamaian 20 poin. Malaysia tidak termasuk karena kami memberikan dukungan bersyarat,” kata Anwar saat sesi tanya jawab di Dewan Rakyat, Selasa (14/10/2025).

Baca Juga :  Presiden Prabowo Datangi Posko Pengungsi di Agam, Target Huntara Rampung Sebulan

Anwar menegaskan, Malaysia tetap mendukung inisiatif perdamaian, tetapi dengan syarat pengakuan kedaulatan Palestina, penyelesaian konflik di Tepi Barat, dan pemulangan pengungsi Palestina.
“Kami mendukung perdamaian yang komprehensif dan adil, bukan yang mengabaikan hak-hak rakyat Palestina,” ujarnya.

Ia juga menyoroti krisis kemanusiaan di Gaza yang semakin memburuk. Menurutnya, hanya 167 truk bantuan yang berhasil masuk meski 600 truk dijanjikan. Malaysia, kata Anwar, sejalan dengan negara seperti Qatar dan Yordania yang menuntut penghentian kekerasan terhadap warga sipil dan mendesak akses penuh bagi bantuan kemanusiaan.

Baca Juga :  Mentri Yusril Ihza Mahendra Khatib Jum'at Masjid Agung Pondok Tinggi Sungai Penuh

Anwar menyebut Hamas telah menunjukkan kesiapan mendukung upaya perdamaian asalkan resolusi yang dihasilkan menjamin penyelesaian menyeluruh, menghormati hukum internasional, dan membuka jalur bantuan ke Gaza.
“Perwakilan Hamas yang hadir di Sharm El-Sheikh juga menyatakan keterbukaan terhadap perdamaian, namun mereka menuntut solusi yang tuntas,” ungkapnya.

Baca Juga : María Corina Machado Raih Nobel Perdamaian 2025, Simbol Perjuangan Demokrasi Venezuela

Anwar menutup dengan menegaskan sikap Malaysia yang konsisten: perdamaian sejati hanya bisa tercapai jika dunia mengakui kedaulatan Palestina dan mengakhiri pendudukan.
“Kami mendukung setiap upaya yang menghentikan kekerasa.(lie)

Berita Terkait

Menpora Harapkan HSP ke 93 Jadi Momentum Pemuda Bersatu dan Bangkit untuk Indonesia Lebih Tumbuh dan Maju
Mendagri Larang Kepala Daerah Tinggalkan Wilayah hingga 15 Januari 2026
Ini Besaran Gaji PPPK Lulusan SMA Tahun 2025 Sesuai Perpres 11/2024
SKB 3 Menteri 2026: 17 Hari Libur Nasional dan 8 Cuti Bersama

Berita Terkait

Selasa, 21 Oktober 2025 - 23:59 WIB

Prabowo Wajibkan Menteri Naik Maung, Purbaya: “Uangnya Sudah Ada!”

Senin, 13 Oktober 2025 - 12:00 WIB

Utang Kereta Cepat Capai Rp118 Triliun, Ekonom Sebut “Bom Waktu” bagi Keuangan Negara

Minggu, 18 Januari 2026 - 15:49 WIB

Buruan Daftar! Polri Buka Lowongan Perwira SIPSS 2026 Mulai 15 Januari, Cek Link Resminya

Rabu, 15 Oktober 2025 - 12:00 WIB

Trump Ancam Kirim Rudal Tomahawk ke Ukraina Jika Rusia Ogah Damai

Berita Terbaru